Sajadah Muslim

Membahas Tentang Seputar Ilmu Agama Islam

Khutbah Jumat: Keutamaan Taqwa

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Puji dan syukur kita persembahkan kehadirat Allah SWT yang telah memberikan taufiq, hidayah  dan nikmat-Nya terutama nikmat Iman, Islam dan Umur kepada kita sekalian. Demikian pula shalawat serta salam mari kita sampaikan kepada Nabi besar Muhammad SAW beserta keluarga dan sahabatnya sebagai salah satu wujud kecintaan kita kepadanya. Demikian pula marilah kita memperbaiki Iman dan Taqwa kita kepada Allah SWT dengan sebenar-benar iman dan taqwa kepada-Nya.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbabagia

Sebelum kita bahas lebih lanjut alangkah baiknya jika kita jelaskan terlebih dahulu pengertian taqwa. Secara harfiah taqwa berarti "waspada", taqwa tidak sama dengan takut, taqwa pengertiannya lebih luas dari pada takut, karena takut hanya merupakan salah satu unsur dari taqwa. Sebagian ulama berpendapat bahwa taqwa itu terdiri dari tiga unsur yaitu taat, takut dan cinta. Dengan taat kepada Allah SWT kita akan mengerjakan perintah-Nya, dengan takut kepada Allah SWT kita akan  meninggalkan   larangan-Nya,  dan dengan  cinta kepada  Allah SWT kita akan rajin mengerjakan  amalan-amalan   sunnat.

Adapun  sebagian  ulama  berpendapat   bahwa  taqwa  itu mengerjakan  perintah Allah SWT dan meninggalkan  larangan­larangan-Nya,  dan inilah definisi yang paling populer. Sementara  para  ulama  akhlaq berpendapat bahwa kata taqwa terdiri dari empat huruf, dan setiap huruf mengandung makna  simbolik (kepanjangan) yang sesuai dengan makna taqwa,  yaitu  :
  • Huruf  Ta' berarti Taubat, yaitu menyesali dosa yang pernah diperbuat  dan kembali taat kepada Allah SWT.
  • Huruf Qaf berarti Qanaah, yaitu mensyukuri rezeki yang diberikan oleh Allah SWT walaupun   sedikit jumlahnya.
  • Huruf Wa berarti Waraa, yaitu tawadhu dan menjauhi  dosa.
  • Huruf Ya berarti Ikhlas. Walaupun bentuknya adalah seperti huruf ya' namun hakekatnya  adalah  huruf  alief maqshurah, Ikhlas bermakna mengerjakan ibadah  dan  amal shaleh semata-mata karena Allah SWT.

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Dalam khutbah Nabi Muhammad SAW yang pertama di Bani Salim bin Auf, Rasulullah SAW menekankan    pentingnya Taqwa kepada Allah SWT. Dalam khutbahnya itu Rasulullah SAW berkata:

"Saya wasiatkan kepada kalian agar bertaqwa kepada Allah SWT, karena sesungguhnya taqwa kepada Allah adalah sebaik-baik wasiat dari seorang Muslim kepada sesama Muslim ''.

Begitu pentingnya  berwasiat dengan taqwa kepada Allah, sehingga menjadi rukun khutbah, dan  khutbah Jum'at tidak syah jika tidak ada wasiat  ketaqwaan. Dalam khutbah Rasulullah  tersebut, lebih lanjut beliau  bersabda  :

"Sesungguhnya taqwa  kepada Allah membuat wajah menjadi putih berseri, mengundang ridha Allah  dan mengangkat martabat  kita ditengah masyarakat ".

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Bahkan jika kita teliti ayat-ayat Al-Qur'an maka  kita dapat mengetahui bahwa taqwa kepada Allah SWT akan menghasilkan kemakmuran dan kesejahteraan lahir dan bathin. Sebagaimana dalam firman Allah SWT dalam surat al-A'raf ayat 96 :

"Dan sekiranya penduduk suatu negeri beriman dan bertaqwa, pasti kami bukakan kepada mereka berkah dari langit dan bumi". (al-A 'raf : 96)

Berkah dari langit artinya hujan turun secara  teratur,  dan berkah dari bumi berarti hasil-hasil pertanian, peternakan, barang tambang dan sebagainya melimpah untuk kesejahteraan rakyat. Pada ayat 97 dari surat al-A'raf Allah SWT menegaskan : bahwa penduduk negeri mendustakan ayat-ayat Allah maka Allah  menyiksa mereka sesuai dengan perbuatan mereka (pekerjaan kufur).

Kita dapat merasakan secara langsung bagaimana jika hujan turun tidak  teratur, jika  turun terlalu lebat tentu akan mengganggu tanaman atau  bahkan dapat merusaknya yang pada gilirannya para petani   tidak dapat menikmati hasil pertanian mereka. Sebagai solusinya tentu kita harus pandai  mengintrospeksi diri,  memeriksa iman dan taqwa kita kepada Allah SWT, apakah iman dan taqwa kita sudah sempurna ? ataukah sebaliknya.

Bila dalam ayat 96 dari surat al-A'raf menjelaskan tentang iman dan taqwa secara kolektif sebagai  masyarakat atau bangsa, maka di dalam al-Qur'am kita juga menemukan manfaat  taqwa secara pribadi   (individu), sebagaimana firman Allah SWT  dalam  surat at­Thalaq ayat 2-3 :

"Dan barang siapa yang  bertaqwa kepada Allah, ia selalu diberi jalan keluar dari masalahnya (2) Dan memberinya rezki dari arah yang tiada disangka-sangka (3) ''.

Dari ayat ini  kita dapat yakini setiap ada problema atau kesulitan kita akan selalu diberi petunjuk oleh    Allah untuk menyelesaikannya, demikian pula akan semakin mudah untuk mendapatkan rezki dari arah yang tiada terduga sebelumnya. Demikian pula pada surat at Thalaq ayat 4, Allah  SWT berfirman  :

"Dan barang siapa bertaqwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan dalam urusannya ".

Kaum Muslimin Sidang Jum'at Yang Berbahagia

Dari uraian tentang surat al A'raf dan surat at Thalaq, kita dapat memahami bahwa taqwa kepada  Allah, bukan hanya bermanfaat bagi hidup kita dalam bidang kerohanian, tetapi kemakmuran, kesejahteraan,    menjadikan urusan mudah, rezki akan mengalir dari arah yang tiada disangka.

Pada bagian akhir dari khutbah ini, saya akan sampaikan tentang pahala dan balasan yang akan diperoleh bagi orang yang bertaqwa. Salah satu ayat  tentang  hal  ini adalah  firman  Allah  dalam surat ali Imran ayat  133:

"Dan syurga yang luasnya seluas langit dan bumi diperuntukkan bagi orang-orang yang bertaqwa ".
 
Sebagai penutup saya mengajak kita sekalian untuk memperbaiki  Iman dan Taqwa kepada Allah  SWT, agar kita dapat meraih kebahagiaan di dunia dan di akhirat kelak.

Sumber : Kumpulan Khutbah Jumat oleh Drs. KH. Marwan Aidid
 

Sentuhan Raja Midas

Sajadah Muslim ~ Alkisah pada jaman Yunani Kuno ada seorang raja bernama Midas. Ia mendapatkan hadiah kehebatan dari seorang keturunan dewa, yaitu apa saja yang disentuh Raja Midas akan menjadi emas. Berbekal kemampuan ini. Raja Midas menyentuh semua barang yang ada di istananya hingga menjadi emas. Ya betul-betul menjadi emas. Namun tanpa ia sadari, ketika ia lapar dan hendak makan, ia menyentuh makanannya dan jadilah emas !


Saat ini mitos dari negeri Yunani ini berimej positif karena menggambarkan tekad seseorang yang meyakini semua potensinya sehingga apa yang ia inginkan dapat tercapai. Seringkali, di saat kita merasa terpuruk dengan berbagai kegagalan dan cobaan tanpa kita sadari, kita telah menyalahkan diri sendiri. Kalimat pesimis dan menyalahkan diri sering kita lontarkan kepada diri kita juga. Manakala gagal meraih yang kita inginkan, kita mendakwa diri sendiri adalah makhluk yang terbodoh. Padahal dengan menyalahkan diri maka motivasi kita secara otomatis menurun (demotivasi). Ketika diri kita telah demotivasi maka resiliensi atau semangat untuk bangkit lagi dari keterpurukan telah melemah.

Pada saat kita terpuruk maka bangkitkanlah lagi cerita sentuhan Raja Midas ini dalam diri. Ungkapkan pada diri. “Aku pasti bisa melewati ini dan kesuksean telah menungguku pasti....pasti dan pasti bisa!” Dengan optimisme dalam diri maka kita akan mudah bangkit lagi. Terlebih menurut expectation theory (teori penghargaan), semakin kita berharap kesuksean maka semakin besar peluang kesuksean itu menghampiri kita, karena motivasi yang tinggi untuk sukses mendorong perilaku seseorang untuk mencapai kesuksean tersebut. Terus terang, saya sering melakukan sentuhan Raja Midas ini untuk mendorong optimisme  saya. Ketika saya ingin membeli rumah atau mobil maka saya akan sentuh barang tersebut dengan menanamkan keyakinan bahwa saya pasti bisa membelinya. Walhamdulillah, barang yang saya inginkan dapat terbeli dan terpenuhi.

Alangkah lebih baik jika lingkungan sosial turut mendukung munculnya optimisme kesuksean tersebut. Misalnya, anak kita yang sedang terpuruk dengan prestasi akademisnya, kita bangkitkan lagi optimisme kesukseannya dengan harapan-harapan yang positif. Semakin kita memberi harapan-harapan optimisme kepada orang lain maka kinerjanya dapat melebihi kapasitas dirinya. Hal inilah yang menyebabkan harapan positif dari lingkungan sosial tadi tertanam di dalam dirinya dan membuktikan harapan positif tersebut menjadi kenyataan. Proses menanamkan optimisme kepada orang lain sehingga ia berusaha mewujudkan inilah  yang disebut sebagai self fulfilling prophecy sebagai salah satu dasar tercapainya harapan, di samping berdoa kepada Allah Swt. Huwallahu 'lam bish shawab.

Oleh Bagus Kastolani
 

Bolehkah Wanita Mengumandangkan Adzan?

Sajadah Muslim ~ Ada sebuah pertanyaan, Bolehkah seorang wanita mengumandangkan atau menyuarakan adzan (panggilan shalat) ?


Jawabannya ialah :

Dalam masalah ini ada dua macam pendapat. Ada yang mengatakan boleh, ada yang mengatakan tidak boleh. Mereka yang berpendapat tidak boleh, lantaran hadits-hadits yang menyuruh adzan semuanya  ditujukan kepada kaum lelaki. Tidak ada satupun suruhan yang ditujukan kepada kaum wanita. Karena  itulah, maka adzan hanya dibenarkan untuk laki-Iaki saja, dan tidak dibenarkan untuk wanita.

Dalam sebuah  hadits, Rasulullah saw bersabda: "Tidak ada perintah adzan dan qamat bagi wanita". (HR. An Najjad)

Juga dalam sebuah hadits, Nabi saw bersabda : "Sesungguhnya    kelemahan dan aurat itu ada pada (diri) wanita, maka tutuplah kelemahan mereka dengan diam dan sembunyikanlah aurat-aurat mereka  dengan (diam) dirumah­rumah".  (HR. Al Uqaili)

Hadits Al Uqaili ini tidak menunjukkan larangan wanita beradzan, tetapi larangan wanita bersuara keras. Oleh karena adzan itu dengan suara keras, maka hadits ini dapat dijadikan dasar  untuk  tidak dibolehkannya wanita beradzan. Lagi pula di zaman Nabi, Sahabat, Tabi'in dan Imam-Imam yang empat, tidak ada satupun riwayat wanita beradzan untuk umum. Dan kalaupun ada hanyalah dirumah mereka  sendiri.

Imam Syafi'i berkata : "Tidak ada perintah beradzan bagi wanita bila mereka shalat berjama'ah. Namun   jika mereka beradzan dan beriqamat, tidaklah  mengapa".

Oleh Ustadz Labib Mz
 

Ceramah Kultum: Membentuk Kepribadian Yang Islami

Sajadah Muslim ~ Kepada yang terhormat para alim ulama, para pejabat pemerintah baik sipil maupun militer, para ustadz dan ustadzah, para bapak, ibu, hadirin dan hadirat yang dimuliakan Allah swt.


Mengawali pertemuan kita melalui mimbar kultum kali ini, pertama­tama, marilah kita panjatkan puji  syukur kepada Allah, Tuhan sarwa sekalian alam. Shalawat dan salam, semoga senantiasa dilimpahkan kepada junjungan Nabi Besar Muhammad saw yang telah menunjukkan kita pada jalan yang lurus, jalan  yang menuju kebahagiaan  dan keselamatan hidup  di dunia  dan akhirat.

Hadirin dan Hadirat sekalian yang saya hormati

Sebagai satu-satunya agama yang  tinggi  dan diridhai Allah swt. Islam telah mengajarkan bagaimana   seharusnya pandangan dan sikap hidup seorang muslim dalam menghadapi  berbagai  persoalan yang dihadapi dalam hidupnya. Di antara sikap hidup yang periu diikrarkan, dilatih dan dikembangkan  dalam  kehidupan dan pergaulan sehari-hari agar menjadi kebiasaan dan mengakar ke dalam kepribadiannya   sebagai seorang muslim yang  balk, yaitu:

Pertama:  Mengucapkan kalimat Syahadat, Mengucapkan dua kalimat syahadat, menjadi dasar utama  dalam membangun kehidupan dan  cita-cita. Kalaulah diibaratkan membangun sebuah bangunan, maka  kalimat syahadat laksana pondasi utamanya. Pondasi itu perlu diperkuat dan diperkokoh, sehingga   kontruksi bangunan yang  ada di atasnya tidak mudah retak dan roboh, tidak lekang karena panas dan tidak lapuk karena hujan.

Persaksian dengan mengucapkan dua kalimat syahadat itu memiliki makna yang sangat penting bagi kehidupan seorang muslim. Sehingga terbentuklah kepribadian seorang muslim yang tangguh dan beridentitas Islam, di manapun dan dalam kondisi apapun. Sebagaimana firman Allah swt :

"Saksikanlah, bahwa kami  adalah orang-orang yang menyerahkan diri kepada Allah (orang-orang  muslim)." (QS. Ali  Imran: 64).

Kedua: Mengucapkan Basmalah,  dengan meagucapkan  bismillaahir rahmaanir rahiim, artinya:  "Dengan  nama Allah Yang Maha  Pengasih lagi Maha Pernurah,"  ketika memulai  suatu pekerjaan  yang baik. Ucapan basmalah  yang bersumber  dari dalam lubuk hati secara ikhlas, menunjukkan pengakuan  kita  akan kekuasaan dan kebesaran Allah Yang Maha Pengasih lagi Penyayang. Kita menyadari  sepenuhnya   bahwa berhasil atau tidaknya suatu pekerjaan  atau usaha yang kita lakukan tergantung atas kehendak  dan izin Allah swt. Usaha dan perjuangan yang kita lakukan hanyalah sebagai suatu  bentuk ikhtiar saja. Setiap pekerjaan yang tidak dimulai dengan basmalah akan terputus dari berkah dan rahmat Allah. Nabi  saw bersabda: "Tiap-tiap  perkara (pekerjaan)  yang tidak dimulai  dengan menyebut  nama Alah Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah akan  terputus (dari  rahmat  Allah)." (HR. Bukhari).

Ketiga: Membaca Tahmid (memuji Allah), ketika kita menutup atau mengakhiri suatu pekerjaan,   hendaklah mengucapkan hamdalah, bertahmid (memuji kepada Allah swt). Sebagai contoh yang sederhana, ketika mulai makan atau minum bacalah bismillaahir  rahmaanir  rahiim, artinya:  "Dengan  nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Pemurah." Dan setelah selesai makan ucapkanlah    hamdalah.

Ucapan  tahmid itu, berarti sekaligus kita menyatakan syukur atas nikmat yang dikaruniakan Allah swt. Membaca  tahmid, hendaklah tetap dilakukan tanpa memandang apakah pekerjaan yang dilakukan itu berhasil atau belum Seandainya pekerjaan itu belum berhasil, maka dengan ucapan tahmid itu kita telah melakukan pujian kepadaAllah swt. Bertahmid dan membaca hamdalah hendaklah tetap diucapkan ketika mengakhiri setiap pekerjaan baik telah berhasil ataupun sebaliknya. Dengan mengucapkan  tahmid, utamanya di waktu belum berhasil, merupakan indikasi dari manifestasi kebesaran dan kelapangan jiwa bahwa kita  mampu  menerima  semua  itu dengan  lapang  dada dan penuh kepasrahan kepada Tuhan Yang Kuasa lagi Maha Menentukan.

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati

Keempat: Mengucapkan Insya Allah. Sebagai manusia, tidak mungkin kita hidup tanpa menjalin hubungan dengan orang lain baik dalam perkumpulan, di tempat kerja, bersama tetangga, dalam lingkungan keluargadan lain sebagainya, bahkan seringkali kita membuat janji, ikatan dan yang semisalnya. Di samping itu, kita juga tidak bisa terlepas dari suatu rencana yang telah  kita susun yang tentunya kita berharap dan berusaba  untuk  dapat  terlaksana  dan berhasil  dengan  baik. Tetapi dalam tataran pelaksanaannya tidak sedikit kita menemukan kendala dan berbagai kesulitan yang berada di luar jangkauan dan perhitungan kita yang tidak dapat kita atasi dan tidak dapat menemukan solusinya. Sebab semua itu pada  tingkat  akhirnya  hanyalah  tergantung  dan ditentukan oleh kehendak dan takdir Allah swt. 

Oleh karena itu, dalam menghadapi suatu janji atau membuat rencana seorang muslim hendaklah mendasarkannya pada kehendak kekuasaan Allah dan biasakan mengucapkan insya Allah. Karena manusia bisa merencanakan  tetapi Tuhanlah yang menentukan.

Kelima: Beristighfar (memohon ampun kepada Allah).  Sebagai manusia,  kita tidak mungkin sunyi dari kesalahan dan kekhilafan. Apabila kita terlanjur dan terpeleset  melakukan kesalahan dan dosa baik dosa kecil, utamanya dosa besar, maka bersegeralah beristighfar memohon ampun kepada Allah swt. Karena Allah sangat menyukai kepada hamba-Nya yang segera bertobat  memohon ampun kepada­ Nya, dan Dia adalah Tuhan Yang Maha Pengampun. Allah swt.  berfirman:

"Dan (juga) orang-orang yang apabila mengerjakan perbuatan keji atau menganiaya diri sendiri, mereka ingatakan Allah, lalu memohon ampun terhadap dosa-dosa mereka dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain dari pada Allah. Dan mereka tidak meneruskan perbuatan kejinya itu, sedang  mereka mengetahui." (QS. Ali Imran:  135)

Penyesalan yang timbul dalam jiwa  seseorang, sehabis melakukan kesalahan merupakan sebuah sikap jiwa yang baik. Penyesalan yang timbul dengan penuh kesadaran disertai dengan kebulatan tekad untuk tidak mengulangi kesalahan dan dosa itu lagi, merupakan sikap orang yang bertobat.

Sehingga dengan begitu, timbullah rasa optimisme di dalam memandang hari esok dengan penuh harapan. Bagi seorang muslim harus yakin bahwa Allah adalah Tuhan Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang. Betapapun besarnya dosa yang kita lakukan, jika kita benar-benar bertobat kepada-Nya, niscaya Dia akan mengampuninya. Karena Tuhan sangat menyukai hamba-Nya yang bertobat dan mem­ bersihkan  diri dari kesalahan dan dosa yang pernah dilakukannya.

Keenam: Mengucapkan Hauqalah, di dalam menjalani kehidupan dan perjuangan, tidak sedikit kita bertemu dengan rintangan dan kesulitan yang terasa begitu berat dan melelahkan bahkan mungkin berada di luar jangkauan kemampuan kita. Namun betapapun hebatnya gempuran yang bertubi-tubi dan rintangan yang datang silih berganti, sebagai seorang muslim kita tidak boleh sesak nafas, apalagi sampai putus asa, kehilangan pegangan dan arah. Pada saat segala kekuatan lahiriah tidak mampu mengatasi keadaan, maka haruslah ditumbuhkan kekuatan rohaniah bahwa "Tiada daya dan kekuatan  kecuali dari Allah semata."

Hadirin dan hadirat sekalian yang saya hormati

Demikianlah kultum yang dapat saya sampaikan dalam kesempatan kali ini, semoga kita benar-benar  menjadi muslim yang memiliki kepribadian sebagai seorang muslim yang sejati, hingga akhir hayat kita tetap berpegang teguh pada Islam, amin. Akhirnya, terima kasih atas perhatiannya  dan mohon maaf atas kesalahan dan kurang lebihnya. Hadanallah waiyyakum ajma'in, wassalamu 'alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Oleh Ust. Abdullah Farouk & Ust. Ibnu Hasan
 

Sifat Ar-Rahman

Sajadah Muslim ~ Sifat "ar-Rahman" merupakan salah satu sifat Allah SWTyang paling banyak diucapkan oleh umat Islam, yang jumlahnya diperkirakan 1,5 milyar orang di seluruh permukaan planet bumi ini. Sebab sifat tersebut terdapat dalam Surah Al-Fatihah, Surah ke-1 dalam Al-Qur'an. Sementara itu setiap kali umat Islam mendirikan shalat baik shalat wajib maupun shalat sunat wajib membaca Surat Al-Fatihah. Karena itu bisa dibayangkan berapa kali setiap orang Islam, orang perorang, setiap harinya mengucapkan sifat "ar-Rahman itu, dan berapa milyar kali umat Islam sedunia mengucapkan sifat tersebut setiap harinya. Tegasnya, umat Islam sangat sering mengucapkan sifat-sifat tersebut.


Apa tafsiran makna dari "ar-Rahman"? Apa pula inspirasi yang bisa kita petik dari tafsiran tersebut. Mari kita perdalam pemahaman kita tentang hal tersebut.

Kata "ar-Rahman" dalam bahasa Arab masuk dalam wazan "Fa'lan" dan "fa'il" yang oleh para ahlinya disebut "Shifat musabbahah", yakni sifat yang melekat pada sesuatu yang tidak pernah hilang atau lenyap bersifat permanen. Namun dalam kata "ar-Rahman" juga terkandung sifat menyangatkan" (lial-muballaghah) yang karena itu ada yang menerjemahkan kata "ar-Rahman" dengan "Maha Pengasih".

Menurut penulis kata'Ar-Rahman" bisa diterjemahkan dengan senantiasa siap memberi kalau ada permohonan (doa) dan mahluk-Nya. Penerjemahan ini selaras dengan pernyataan Allah Swt sendiri dalam QS Al-Baqarah ayat 186, “Aku akan kabulkan permohonan doa orang-orang yang bersungguh-sungguh berdoa apabila dia berdoa kepada-Ku” Jika kata “ar-Rahman” diterjemahkan seperti itu, maka dalam bahasa psikologi bisa disamakan dengan istilah “rasa simpati”. Seperti diketahui rasa simpati itu muncul kalau ada kesediaan dan keamanan hati untuk menaruh perhatian kepada orang lain secara penuh. Kalau rasa simpati sudah tumbuh dalam hati, maka seseorang akan bersedia dengan senang hati dan terbuka  terhadap keluhan orang lain, mau mendengar curahan hati orang lain, dan mau melihat serta merasa ikut prihatin terhadap penderitaan orang lain yang kebetulan sedang kurang beruntung.

Baca juga :
Berdasarkan seluruh uraian diatas, maka penyikapan terhadap sifat “ar-Rahman “ dari Allah Swt adalah kita perlu merendahkan hati di hadapan Allah Swt dengan suka berdoa kepada-Nya. Sebab kita memang hamba-Nya. Kita lemah di hadapan-Nya. Kita sangat membutuhkan-Nya, dan membutuhkan  keselamatan-Nya, membutuhkan rahmat-Nya. Inilah tanda bahwa kita ada hamba (abdun) yang baik. Di balik itu, dalam menghadapi sesama manusia, sesama makhluk kita perlu mengembang suburkan sifat “rasa simpati” dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang dibutuhkan orang lain, kita bisa dan mampu membantunya sesuai dengan kemampuan kita.

Sumber : Majalah Suara Muhammadiyah
 

Khutbah Jumat : Meraih Kemenangan Dengan Shalat

Sajadah Muslim ~ Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah Swt.  

Sebagai Hamba Allat Swt marilah senantiasa kita mengucapkan rasa syukur kita hanya kepada Allah Swt, karena hanya dengan izin dan  kuasa-Nyalah kita bisa berkumpul di Jum'at yang mulia ini.

Shalawat serta salam semoga selalu tercurahkan kepada Nabi dan Rasul kita Muhammad saw. Beliau yang telah menunjukkan jalan kemenangan bagi kita supaya kita bisa selamat dalam hidup di dunia dan akhirat kelak.

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah Swt.
 
Salah satu jalan kemenangan yang ditunjukkan oleh Rasulullah kepada kita adalah dengan mengerjakan shalat secara benar.

“Sesungguhnya amalan yang pertama kali dihisab dari seorang hamba Allah pada hari kiamat adalah shalatnya, jika baik shalatnya, maka sungguh ia menang dan beruntung dan jika rusak shalatnya maka dia sungguh merugi dan kalah, kemudian jika terdapat kekurangan dari amalam shalat fardhunya Allah Azza wa Jalla berfirman: Periksalah apakah pada hambaku  terdapat amalan shalat tathawwu'nya, maka ia (amalan shalat  tathawwu) menyempurnakan kekurangan-kekurangan yang ada pada shalat fardhunya, kemudian sempurnalah seluruh amalannya atas yang demikian itu.” (HR. Tirmidzi)

Oleh karena itu, dalam kesempatan ini marilah kita melihat bagaimana shalat kita, apakah sudah dalam kategori baik dan benar? Baik dan benar dalam shalat bisa ditinjau dari apakah shalat itu sudah sesuai dengan Sunnah Nabi Saw, karena sungguh  merugi jika  seseorang shalat kemudian di hari perhitungan nanti ternyata shalatnya tidak diterima, hanya karena shalat yang biasa dan telah ia kerjakan tidak sesuai yang Nabi Muhammad saw tuntunkan. 
  
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah Swt.

Ukuran shalat yang baik dan benar bisa pula dilihat dari apakah sudah kita usahakan tepat waktu, atau malah kita termasuk Muslim yang sengaja berani meninggalkan shalat tanpa ada sebab Syar'i ?

Yang tidak kalah pentingnya, shalat yang benar juga harus membawa pengaruh dalam kehidupannya. Hal ini sesuai dengan firman Allah Swt dalam surat Al-Ankabuut ayat 45 sebagai berikut:

“Dan dirikanlah shalat. Sesungguhnya shalat itu mencegah dari (perbuatan-perbuatan) keji dan munkar”.
 
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah Swt.
 
Sungguh sangat disayangkan ketika kita sudah melaksanakan shalat akan tetapi kita masih gemar bermaksiat dalam keseharian kita. Mengapa hal ini terjadi? Apa yang salah? Ada beberapa  jawaban dari pertanyaan ini.  Jawaban yang paling  dasar adalah  bahwa ketika orang sudah melaksanakan shalat tetapi masih gemar bermaksiat adalah karena bisa jadi shalatnya sebatas untuk menggugurkan kewajiban saja. Tidak merenungi makna dari takbirnya, bacaan iftitahnya, Al-Fatihahnya dan gerakan serta doa-doanya.

Orang yang shalat sebagaimana diterangkan surat Al-Ankabut ayat 45 diatas sejatinya sudah terlindung dari maksiat dan kemunkaran. Artinya sebagai mukmin yang sudah shalat tidak pantas berbuat maksiat atau kemungkaran, sebab shalat adalah perisai dari maksiat dan perlindungan dari berbuat kemungkaran.

Ketika sudah shalat tetapi masih saja berbuat maksiat dan kemunkaran, maka pada saat itu juga shalat sebagai pelindung anti maksiat telah ditinggalkan.
   
Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah Swt.

Dalam Hadits diatas ditegaskan pula tentang pentingnya senantiasa rajin dan gemar melaksanakan shalat sunnah, sebab dengan segala kemuliaan dan kemurahan Allah Swt shalat sunnah adalah amalan yang dapat menyempurnakan dan menutupi kekurangan-kekurangan dari amalan shalat fardhu. Maka jangan sampai kita bermalas-malasan dan enggan melaksanakan shalat-shalat sunnah.

KHUTBAH KEDUA

Jama'ah Jum'at yang dirahmati Allah Swt.
 
Sebagaimana dalam hadits yang sudah disampaikan sebelumnya dapat kita pahami bahwa amalan shalat menjadi barometer amal dari segala amal-amal kita. Amalan shalat menjadi patokan dari semua amalan kita yang lainnya.

Oleh sebab itu, demi meraih keberuntungan dan kemenangan hari akhir, mari kita perbaiki dan kita mantapkan kembali amalan shalat fardhu kita, yakni dimulai dari melaksanakan shalat yang tata caranya sesuai dengan tuntunan sunnah al-Maqbulah.

Marilah kita usahakan agar shalat yang kita kerjakan tidak sebatas ritual untuk menggugurkan kewajiban saja, tetapi shalat yang sepatutnya menjauhkan kita dari maksiat dan kemunkaran.

Baca Doa Penutup Khutbah Ju’mat.

Sumber : Majalah Suara Muhammadiyah
 

Lima Perkara Pembentuk Peradaban Manusia

Sajadah Muslim ~ Dari Ibnu Abbas ra Rasulullah saw bersabda dan menasehati pada seseorang. "Gunakan yang lima sebelum datang yang lima: masa mudamu sebelum masa tuamu, masa sehatmu sebelum masa sakitmu, masa kayamu sebelum masa miskinmu, masa lapangmu sebelum masa sibukmu dan masa hidupmu sebelum masa matimu." (HR Al-Hakim)


Hadits ini dinilai shahih menurut syarat al-Bukhari dan Muslim dimana Rasul memerintahkan umatnya untuk memanfaatkan lima perkara yang menguntugkan diri sebelum lima perkara  yang sebaiknya mendatangkan kerugian serta penyesalan.

Muda Sebelum Tua

Masa muda adalah masa yang paling istimewa dalam fase kehidupan manusia. Banyak hal yang bisa dilakukan dan memungkinkan seseorang menghasilkan karya bermanfaat bagi dirinya dan orang lain dengan dukungan kekuatan fisik, kecemerlangan berpikir, lantang bersuara dan ketangkasan bertindak. Maka Islam sangat menghargai para pemuda yang akan meneruskan estafet perjuangan di masa depan. Seperti Rasul yang memberi kepercayaan kepada pemuda  Zaid bin Tsabit menjadi sekretaris pribadinya dan mengangkat Usman bin Zaid bin Haritsah, yang berusia kurang dari 20 tahun menjadi panglima perang menaklukan Romawi.

Fakta historis sebagaimana direkam Al-Qur'an, pemuda adalah pelaku dan pembentuk utama peradaban.

Misalnya kisah mempertahankan keteguhan iman para pemuda Ashabul Kahfi pada masa Raja Diqyanus yang bengis dan kejam hingga nama mereka diabadikan menjadi satu nama Surat Al-Qur'an. Para pemuda Muslim juga berkontribusi dalam mempertahankan agama dan kedaulatan negeri Islam, seperti Thariq bin Ziyad yang berusia kurang dari 30 tahun dan menjadi pahlawan penaklukan Spanyol dimasa khalifah al-Walid bin Abdul Malik dari Bani Umayyah. Nama lain yang fenomenal adalah Muhammad al-Fatih, yang dalam usia 21 tahun mampu menaklukan Konstantinopel atau Byzantium.

Baca juga :
Selain itu, usia muda sepatutnya digunakan untuk mrncari ilu sebagai bekal di masa tua. Imam Al-Syafi'i bersyair:

"Kehidupan seorang pemuda itu berlandaskan ilmu dan ketakwaan."

Musthafa al-Ghulayani, seorang pujangga Mesir bersyair: 

"Sungguh ditangan pemudalah urusan umat dan dikaki merekalah  kehidupan umat"

Sehat Sebelum Sakit

Kesehatan baik rohani dan jasmani, adalah dambaan setiap insan yang tidak selamanya menyertai. Adakalanya Allah menguji dengan suatu penyakit. Sehat dan sakit adalah sunnatullah yang berlaku bagi semua makhluk. Ketika tubuh sehat manusia banyak yang lupa mahalnya harga sehat dan disaat sakit barulah ia sadar. Hal ini sesuai dengan sabda Nabi. "Dua nikmat yang banyak manusia tertipu, yaitu kesehatan dan waktu luang" (HR Al-Bukhari)

Kaya Sebelum Miskin

Kaya dan miskin adalah ujian bagi hamba. Hidup bagaikan ombak dipantai ada pasang- surutnya. Tidak selamanya si miskin hidup dalam kemiskinannya. Tidak selamanya pula si kaya hidup dalam kemewahan yang dimilikinya.

Kekayaan dan harta dalam islam adalah istikhlaf, amanah dan titipan Allah. Oleh karena itu dalam mencari, mengelola dan mentasharuf-kannya harus sesuai dengan aturan Allah sang pemilik kekayaan. Maka dalam Islam aturan dan perintah sedekah, zakat, infak dikarenakan dalam harta seseorang terdapat hak orang lain yang harus ditunaikan.

Dengan zakat, kesejahteraan sosial akan terwujud. Sayang tidak semua manusia menyadari filosofi harta kekayaan ini. Saat posisinya di puncak kekuasaan dengan segala fasilitas mewah yang melekat pada dirinya dia lupa bahwa kekuasaan dan kepemilikan harta yang abadi hanya pada Allah semata.

Lapang Sebelum Sibuk

Durasi waktu yang diberikan pada manusia, baik mukmin maupun yang ingkar (kafir) sama menyesuaikan kebutuhan manusia, baik untuk bekerja, beristirahat dan beribadah. Seorang mukmin harus bijak dalam memanfaatkan waktu yang disediakan-Nya. Mengisinya dengan amalan ibadah, baik ibadah secara umum (‘am), yaitu bekerja memakmurkan bumi maupun beribadah secara khusus (khas) seperti shalat dan zakat dimana keduanya adalah sarana mendekatkan diri kepada Allah swt. Selain itu memanfaatkan waktu untuk memperluas khazanah pengetahuan dengan membaca dan menghadiri majelis ilmu sebagai kewajiban seorang muslim.

Kesempatan tidak terulang dua kali, maka hendaknya setiap insan tidak menyia-nyiakan kesempatan. Pekerjaan yang bisa dilakukan hari ini jangan diulur-ulur sampai besok. Ketika satu  pekerjaan ditunda maka akan menumpuk di hari esoknya, sehingga akan menyusahkan diri sendiri. Menunda pekerjaan atau mengulur-ngulur waktu merupakan indikasi kemalasan yang dapat menghambat terwujudnya peradaban Islam.

Hidup Sebelum Mati

Setiap manusia yang diberi kesempatan menjalani kehidupan di dunia fana ini masing-masing telah diatur jatah hidupnya. Durasi hidup manusia semuanya telah tercatat dengan rapi dalam lauh al-mahfuzh. Hanya Allah yang mengetahuinya. Tugas manusia adalah menjalani kehidupan ini dengan sebaik-baiknya, berusaha untuk bertaqwa sesuai kemampuan, karena kelak semuanya akan ditagih oleh Allah swt, termasuk tugas kekhalifahannya di muka bumi. Maka kehidupan dunia ini adalah ujian yang hasil akhirnya akan diperlihatkan di fase kehidupan akhirat. Allah berfirman:

"Dialah yang menjadikan mati dan hidup untuk menguji kamu, siapa diantaramu yang lebih baik amalnya." (QS Al-Mulk ayat 2)

Kehidupan dunia amat singkat jika dibandingkan dengan kehidupan akhirat yang kekal abadi, harus dipadatkan dengan berbagai amal kebajikan agar hasilnya dapat dinikmati di kala raga sudah berpisah dengan jasad. Memanfaatkan kehidupan dunia dengan sebaik-sebaiknya berarti mempersiapkan kehidupan bahagia diakhirat kelak. Balasan di akhirat tentu selama berbanding lurus  dengan usaha selama mengembara di alam dunia. Wallahu a'alam.

Sumber : Majalah Suara Muhammadiyah
 

Tata Cara Penyelenggaraan Jenazah

Sajadah Muslim ~ Apakah kewajiban orang Islam terhadap jenazah orang Islam ? "Kewajiban orang Islam terhadap jenazah orang Islam ada 4 :
  1. Memandikan
  2. Mengafani
  3. Menyalatkan
  4. Menguburkan
Kewajiban orang Islam terhadap jenazah orang Islam lainnya adalah fardhu kifayah, yakni apanila sebagian orang Islam sudah melaksanakan, maka gugurlah kewajiban orang Islam lainnya.

Memandikan Mayit

Bagaimanakah cara memandikan mayit? "Cara memandikan mayit yaitu, bersihkan semua najis yang ada badannya terlebih dahulu, kemudian meratakan air ke seluruh badannya sekali, atau lebih baiknya tiga kali yaitu dengan air sabun, air yang bersih, dan air yang bercampur dengan kapur barus.

Mengafani Mayit

Bagaimanakah cara mengafani mayiit? "Cara mengafani mayit, yaitu  sekurang-kurangnya selapis kain yang menutupi aurat mayit dan lebih utama bagi mayit laki-laki 3 lapis kain putih dan 1 serban. Dan bagi perempuan 2 lapis kain putih, 1 sarung, 1 kebaya dan 1 kerudung.

Menyalatkan Mayit

Bagaimanakah cara shalat mayit? Adapun cara shalat mayit yaitu:

1. Berdiri bagi yang kuasa.
2. Niat, yaitu bagi mayit laki-laki:

Ushallii 'alaa haadzal-mayyiti arba'a takbiiraatin (fardhal-kifaayati lillaahi Ta'aalaa.
Artinya : "Saya shalat atas mayit ini empat takbir fardhu kifayah karena Allah Ta'ala.

Dan bagi mayit perempuan:

Ushallii 'alaa haadzihil-mayyitati arba'a takbiiraatin fardhal-kifaayati lillaahi Ta'ala.
Artinya : "Saya shalat atas mayit ini empat takbir fardhu kifayah karena Allah Ta'ala.

3. Bertakbir (Allaahu Akbar) serta mengangkat kedua tangan.
4. Membaca Fatihah hingga akhir, setelah selesai bertakbir lagi mengucapkan "Allaahu Akbar".
5. Membaca shalawat, sekurang-kurangnya :

Allaahumma shalli 'alaa sayyidinaa Muhammadin wa 'alaa aali sayyidinaa Muhammad.
dan sebaiknya dibaca sempurna sebagaimana shalawat pada tasyahud akhir dalam shalat umumnya, setelah itu bertakbir lagi dan mengucapkan "Allaahu Akbar".

6. Membaca doa (mendoakan mayit) yaitu seperti :

Allaahummaghfir lahuu warhamhuu wa 'aafihii wa'fu 'anhu, wa akrim nuzulahuu wa wassi' madkhalahuu waghsilhu bilmaa'i wats-tsalji wal-baradi wa naqqihii minal-khathaayaa kamaa yunaqqats-tsaubul-abyadhu minad-danasi wa abdilhu daaran khairan min daarihii. Wa ahlan khairan min ahlihii wa zaujan khairan min zaujihii wa adkhilhul-jannata wa a'idz-hu min 'adzaabil-qabri wa fitnatihii wa min 'adzaabinnaar.

Artinya : "Ya Allah, ampunilah dia, kasihanilah dia, sejahterakanlah dia dan ampunilah dosa dan kesalahannya, muliakanlah kedatangannya dan luaskanlah tempat tinggalnya, bersihkanlah dia dengan air, salju dan embun. Bersihkanlah dia dari segala dosa sebagaimana kain putih yang bersih dari segala kotoran, dan gantilah baginya rumah yang lebih baik dari pada rumahnya, gantilah baginya keluarga yang lebih baik dari pada keluarganya dahulu dan gantikanlah baginya istri/suami yang lebih baik dari pada istri/suaminya dahulu, masukkanlah dia dalam surga dan lindungilah dia dari siksa kubur dan siksa neraka.

Setelah itu bertakbir mengucapkan "Allaahu Akbar".

Baca juga :

7. Membaca doa lagi, yaitu:

Allaahumma laa tahrimnaa ajrahuu wa laa taftinnaa ba'dahuu waghfirlanaa wa lahuu wa li'ikhwaaninal-ladziina sabaquunaa bil-iimaani wa laa taj'al fii quluubinaa ghillan lil-ladziina aamanuu Rabbanaa innaka ra'uufur rahiim.

Artinya : "Ya Allah, janganlah Engkau menghalang-halangi kami akan pahala mayit ini dan jangan sampai ada fitnah kepada kami sepeninggalnya, semoga Engkau berkenan memberikan ampunan kepada kami dan kepadanya dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu dari kami dan janganlah Engkau membiarkan kedengkian dalam hati kami terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.

8. Kemudian salam mengucapkan :

As-salaamu 'alaikum wa rahmatullaahi wa barakaatuh, dua kali berpaling ke kanan dan ke kiri.

Keterangan :

Adapun doa bagi mayit perempuan yang berbunyi (hu) hendaklah diganti dengan (ha) seperti (lahuu) menjadi (lahaa) begitulah seterusnya. Dan shalat jenazah itu tidak memakai ruku', sujud dan tahiyyat, hanya berdiri tegak bagi yang kuasa. Dan pada setiap takbir hendaklah mengangkat kedua tangan. Dan hendaklah shalat jenazah itu sekurang-kurangnya 6 orang.

Menguburkan Mayit

Bagaimanakah cara menguburkan mayit Islam? Adapun cara menguburkan mayit Islam yaitu, masukkanlah ke dalam lubang yang telah digali dan dibaringkan menghadap kiblat. Adapun lubang itu harus dapat mencegah bau mayit, dan sebaik-baiknya lubang itu dalamnya setinggi orang berdiri, lebarnya 75 cm, serta dibuatkan liang lahad.

Mayit Keguguran

Bagaimanakah cara mengurus mayit keguguran? Cara mengurus mayit keguguran (bayi yang baru dilahirkan) yaitu, apabila ketika lahir dapat bersuara atau menangis lalu mati, maka hukumnya seperti mayit orang tua. Akan tetapi kalau ketika dilahirkan dalam keadaan mati dan sempurna kejadiannya, maka wajiblah dikerjakan atas hanya tiga perkara yaitu:
  1. Di mandikan
  2. Di kafankan
  3. Di kuburkan
Tidak usah di shalatkan. Dan jika kejadiannya tidak sempurna, tidak wajib apa-apa atasnya, hanya dikuburkan saja.

Peringatan :

Adapun orang-orang yang mati syahid, yaitu orang-orang yang gugur karena membela agama Allah Ta'ala, tidak wajib dimandikan dan dikafankan, hanya wajib baginya dishalatkan dan dikuburkan saja.

Zakat Emas Perhiasan

Sajadah Muslim ~ Hukum zakat emas telah disebutkan di dalam firman Allah Swt, pada QS. At-Taubat ayat 34 yang berbunyi :

“.....dan orang-orang yang menyimpan emas dan perak dan tidak menafkahkannya pada jalan Allah, maka beritahukanlah kepada mereka, (bahwa mereka akan mendapat) siksa yang pedih.”

Dari ayat diatas, secara jelas dapat dipahami bahwa emas merupakan harta benda yang wajib dikeluarkan zakatnya, hal ini terlepas apakah emas tersebut berbentuk perhiasan yang dipakai (digunakan) ataupun emas dalam bentuk simpanan.


Adapun hukum mengeluarkan zakat untuk perhiasan emas terdapat dalam Hadits berikut:

"Dari Abdullah bin Syaddad bin al-Had (diriwayatkan) ia berkata, kami menemui ‘Aisyah istri  Nabi saw, lalu Aisyah berkata: Rasulullah saw masuk menemuiku lalu melihat ditanganku  ada beberapa cincin dan perak lalu beliau bertanya: Apakah ini wahai Aisyah? Aku pun menjawab saya memakainya untuk berhias bagimu wahai Rasulullah. Lalu beliau bertanya lagi. Apakah engkau sudah mengeluarkan zakatnya? Lalu saya menjawab: Belum maa syaa'allah. Beliau bersabda: Cukuplah itu bagimu untuk masuk neraka." (HR. Abu Dawud)

Kemudian di dalam Hadits yang ditakhrij oleh Ahmad juga berbicara tentang hukum zakat perhiasan emas, sebagai berikut:

"Dari Asma bin Yazid (diriwayatkan) ia berkata: Saya masuk dengan bibiku untuk menemui Rasulullah saw dan saat itu bibiku memakai gelang dari emas. Lalu beliau bertanya kepada kami: Apakah kalian sudah mengeluarkan zakat ini? Asma' berkata: Kami menjawab; Belum. Beliau bersabda: Tidakkah kalian takut kalau nantinya Allah akan memakaikan kepada kalian gelang dari api neraka? Oleh karena itu keluarkanlah zakatnya." (HR Ahmad).

Kedua Hadits diatas secara tegas menyebutkan bahwa zakat perhiasan emas hukumnya wajib. Dalam kaitannya dengan mengeluarkan zakat, dikecualikan dengan yang digunakan sebagaimana firman Allah sebagai berikut :

"Dan mereka bertanya kepadamu apa yang mereka nafkahkan. Katakanlah: Yang lebih dari keperluan. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu supaya kamu berfikir." (QS. Al-Baqarah ayat 219).

Dari ayat diatas, secara umum dapat dipahami bahwa harta yang diinfakkan (dizakati) adalah harta yang lebih dari kebutuhan (al-afwa). Dalam masalah ini, perhiasan emas yang digunakan sehari-hari hanya sebatas kebutuhan untuk mempercantik diri dengan penggunaan yang wajar (yang tidak lebih dari kebutuhan), maka tidak dikeluarkan zakat padanya.Oleh karena itu dapat disimpulkan bahwa perhiasan emas yang harus diinfakkan (dizakati) adalah perhiasan yang melebihi batas kewajaran, tidak dipakai dalam arti bahwa perhiasan itu disimpan, telah melewati satu tahun (haul), dan telah mencapai nishab: 85 gram emas murni.

Adapun jika emas itu tidak murni, maka harus dihitung terlebih dulu harga emas murni saat itu, hingga apabila telah diketahui jumlahnya lalu dikali sampai dengan seharga 85 gram emas murni. Langkah selanjutnya adalah apabila emas yang tidak murni tersebut (walaupun) telah sampai nishab 85 gram, namun tidak seharga dengan 85 gram emas murni, maka padanya tidak ada zakat pula.

Selanjutnya mengenai waktu zakat emas tersebut dikeluarkan. Tentang hal ini, dikutip dari 'Ali bin Abi Thalib radhiyallahu 'anhu. Nabi Muhammad saw bersabda:

"Bila engkau memiliki dua ratus dirham dan telah berlalu satu tahun (sejak memilikinya), maka padanya engkau dikenai zakat sebesar lima dirham. Dan engkau tidak berkewajiban membayar zakat" sedikit pun maksudnya zakat emas hingga engkau memiliki dua puluh dinar. Bila engkau telah memiliki dua puluh dinar, dan telah berlalu satu tahun (sejak memilikinya), maka padanya engkau dikenai zakat setengah dinar. Dan setiap kelebihan dari (nishab) itu, maka zakatnya disesuaikan dengan hitungan itu." (HR. Abu Dawud).

Hadits diatas dapat dipahami bahwa apabila seseorang memiliki emas atau perak yang sudah mencapai satu nishab atau lebih dan sudah dimiiki dalam satu tahun, maka wajib membayarkan zakatnya. Namun apabila pemilikkan emas atau perak kurang dari satu nishab maka tidak dikenakan zakat. Oleh karena itu, ketika membeli emas belum dikenai zakat karena belum mencapai haul satu tahun. Namun apabila pemilikan emas perhiasan melebihi dari yang lazimnya dipakai dan telah mencapai satu nishab serta sampai dengan satu tahun, maka terkena kewajiban zakat. Wallahu  a'lam bish-shawab.  

Sumber : Majalah Suara Muhammadiyah
 

Hikmah Diutusnya Rasul

Sajadah Muslim ~ Menurut Sayyid Quthub (Sayid Quthub, Fi Zhilal al-Qur'an (Kairo: Dar al-Syuruq, cet ke-2 , 2003) jilid I halaman 217) kata al kitab yang dalam ayat ini berbentuk mufrad (tunggal), mengindikasikan bahwa prinsip- prinsip ajaran Allah yang dibawa oleh para nabi dan rasul itu serta yang tercantum dalam kitab-kitab yang diturunkan, pada hakekatnya sama sehingga seakan-akan ia hanya satu kitab. Semua nabi membawa ajaran  Tauhid menyuruh untuk kebaikan dan mencegah kemunkaran.  


Kitab yang diturunkan bersama diutusnya para nabi itu mrmbawa ajaran yang dapat memberi jalan keluar terhadap persoalan-persoalan yang dipersilisihkan diantara manusia apabila mereka mau menjadikan.  Kitab itu sebagai tuntunan, Allah akan memberikan petunjuk atau jalan kebenaran melalui al-Kitab yang diturunkan bersama nabi kepada orang-orang yang beriman. Salah satu fungsi al-Kitab itu adalah untuk menyelesaikan berbagai persoalan yang mereka perselisihkan. Perselisihan mereka pada umumnya disebabkan oleh kedengkian (al- baghyu) dan hawa nafsu yang melampaui batas dan seringkali menimbulkan berbagai konflik yang mengakibatkan berbagai tindak kekerasan bahkan  peperangan.

Dalam kehidupan kita saat ini, banyak fakta menunjukkan bahwa masyarakat sebagai satu kesatuan sosial, sering mengalami konflik karena adanya berbagai kepentingan yang dalam pemenuhan kepentingan yang dalam pemenuhan kepentingan tersebut mengabaikan hak-hak orang lain, baik dalam pemenuhan kebutuhan yang bersifat materi maupun non-materi. Hal ini sesuai dengan ayat sebelumnya, yang menjelaskan bahwa kehidupan dunia dijadikan indah bagi orang-orang kafir dan mereka meremehkan orang-orang yang beriman. Orang-orang yang memandang kehidupan dunia sebagai tujuan utamanya cenderung bersikap dengki dan melampaui batas dalam mengejar kehidupan dunia. Hal inilah yang  kemudian memunculkan perselisihan karena adanya berbagai kepentingan.

Disisi lain, sebelum diutusnya nabi, manusia tidak mengetahui sepenuhnya bagaimana cara mereka memenuhi kebutuhan-kebutuhannya, tata cara berhubungan antara mereka dan cara menyelesaikan perselisihan atau perbedaan pendapat yang mengakibatkan perpecahan diantara mereka. Oleh karena itu, Allah menurunkan nabi yang bertugas menyampaikan berita  gembira bagi siapa saja yang memenuhi perintah Allah, dan  memberi peringatan bagi mereka yang mengingkari ketentuan Allah. Penyampaian kabar gembira dan peringatan berupa aturan-aturan yang disampaikan oleh para nabi dimaksudkan agar manusia dapat hidup secara teratur dan tertib sehingga mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan.

Diutusnya para nabi ini terus berlanjut sepanjang hidup manusia sampai diutusnya nabi terakhir, yakni Nabi Muhammad Saw. Sehubungan dengan itu, mematuhi perintah Nabi Muhammad saw merupakan suatu kewajiban supaya manusia memperoleh kebahagiaan dan kesejahteraan di dunia maupun diakhirat. Mayoritas ulama sepakat bahwa taat dan mengikuti (ittiba) nabi adalah suatu kewajiban. Kesepakatan ulama tersebut didasarkan pada ayat-ayat Al-Qur'an dan hadis yang menunjukkan kewajiban taat baik kepada Allah maupun Rasul-Nya (Al-Kandahlawi dalam kitabnya Hayat al-Shahabah menunjukkan beberapa ayat Al-Qur'an dan hadis yang menjelaskan tentang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Ayat-ayat al-Qur'an yang menjelaskan ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya antara lain surah Al-A'raf ayat 157, surah  An-Nisa ayat 59 dan ayat 64, surah al Anfal ayat 20, 46 dan 1, surah Ali Imran ayat 31, 32, surah al-Ahzab ayat 21, suarh al-Hasyr ayat 7. Untuk lebih jelasnya lihat Muhammad Yusuf al-Kandahlawi, Hayat al-Shahabah Radliya Allahu 'Anhum wa Radlu' Anhu, bab al-Ayat al-Qur'aniyyah fi Tha'atillahi  wa Tha'ati Rasulihi Shalla Allahu 'alaihi wa Sallam, juz I (Beirut : Dar al-Fikr, 2002) halaman 15-18. Dalam pembahasan ini al-Kandahlawi memunculkan 18 ayat dalam surah yang berbeda yang menurutnya berisi tentang taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Qadli "Iyadi mengemukakan ayat-ayat yang sama dalam kaitannya kewajiban itttiba' dan taat terhadap Allah dan Rasul-Nya. Lihat Ali al-Qariy, Syarh al-Syifa li al-Qadli' Iyadl, juz 2. (Beirut: Dar al-Kutub al- Ilmiyyah, t,t) halaman 12-21).

Baca juga :
Secara ringkas, ayat ini menginformasikan kepada manusia pada awalnya manusia merupakan satu komunitas yang solid, terikat satu dengan yang lain baik secara  emosional kultur maupun ideologi. Keutuhan komunitas ini kemudian pada perkembangan berikutnya menjadi terpecah karena adanya berbagai kepentingan yang dipenuhi dengan kedengkian dan hawa nafsu yang melampaui batas.

Pada kondisi ini Allah mengutus nabi yang bertugas memberi berita gembira dan peringatan bagi mereka yang beriman. Selain mengutus nabi, Allah juga menurunkan al-Kitab yang didalamnya berisi berbagai petunjuk kebenaran untuk dijadikan acuan oleh mereka yang beriman dalam menyelesaikan berbagai masalah termasuk perselisihan yang diakibatkan oleh berbagai kepetingan yang melampaui batas. 

Sumber : Majalah Suara Muhammadiyah
 
Back To Top